Akhlak Tercela
Akhlak Madzmumah ( Akhlak Tercela )
1. Pasif
a. Pengertian Pasif
Secara bahasa pasif artinya tidak aktif, tidak giat, hanya bersifat menerima saja. Pasif adalah menerima kondisi apa adanya tanpa mau berbuat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Seseorang yang pasif biasanya lesu, acuh tak acuh, hilang kemauan dan energi serta bermalas-malasan.
Adapun dalil naqli sifat pasif:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakang menjaganya atas perintah-Nya. Sesungguhnya Allah SWT tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tidak ada yang mampu menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia.”(Q.S Ar ra’d:11)
b. Dampak Sifat Pasif
c. Perilaku Menghindari Sifat Pasif
1. Meningkatkan rasa percaya diri untuk mewujudkan harapan dan keinginan yang di cita-citakan.
2. Mengenbangkan keberanian untuk membela yang baik dan benar sehingga akan membawa keselamatan dan kemaslahatan orang banyak.
3. Mengefektifkan waktu dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat.
4. Memantapkan jati diri sebagai muslim yang harus menghargai sesama manusia.
5. Menggalang persaudaraan dan kerja sama untuk meningkatkan kualitas diri dalam kehidupan masyarakat.
6. Menumbuhkan gairah amal saleh menuju kemandirian dan kesejahteraan.
2. Pesimis
a. Pengertian Pesimis
Pesimis adalah keadaan batiniah seseorang yang mengaggap dirinya tidak punya masa depan yang cerah. Dia merasa tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidu pannya. Dia berpikir bahwa apa yang akan di usahakannya hanya akan menuai kegagalan.
Firman Allah yang berkaitan dengan sifat pesimis:
“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orng yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Q.S.Ali Imran:139)
b. Kategori Sikap Pesimis
Pesimis terhadap diri sendiri adalah penghalang keteguhan hati manusia dalam menjalani kehidupan ini.
Orang yang berian tidak pantas meragukan kasih sayang Allah SWT kepada keluarga dan anak-anaknya.Imam Muhammad bin Al Munkadir berkata”Sesungguhnya Allah akan memeluhara hamba-Nya yang beriman dalam mengurus anak cucunya.”
Allah memang melebihkan antara yang satu dengan yang lain ,tidak lain adalah sebagai ujian atas keimanan mereka.
Harta kekayaan adalah perhiasan dunia yang sering di gunakan oleh syaitan untuk memperdaya manusia agar jauh dari petunjuk Allah SWT.
Nabi Muhammad saw. Bersabda yang artinya, ”celakalah hamba dinar, hamba dirham dan hamba pakaian. Jika ia di beri, ia tidak ridha, ia benci. Celaka dan hinalah ia. Jika terkena duri, ia tidak akan di cabut.”
C. Unsur pembentuk sikap pesimis
Ø Mendapatkan ketenangan dalam hidupnya
Ø Memiliki keberihakan yang jelas dan tegas
Ø Dapat menjalani kehidupan yang menyenngkan
Ø Memiliki sikap konsisten
Ø Memiliki pengharapan yang kuat terhadap Allah
Ø Berusaha menjalani kehidupan apa adanya
3. Putus Asa
a. Pengertian Putus Asa
Putus asa adalah perilaku seseorang yang menganggap dirinya telah gagal sehingga tidak ada gairah lagi untuk mencoba apa yang dianggapnya gagal. Keputusan dapat menjerumuskan kita ke dalam perbuatan maksiat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.” (Q.S.Yusuf;87).
b. Hikmah Menghindari Putus Asa
4. Bergantung Kepada Orang Lain
a. Pengertian Bergantung Kepada Orang Lain
Bergantung kepada orang lain adalah perilaku seseorang yang selalu mengandalkan orang lain dan tidak mampu mengendalikan dan mengarahkan diri sendiri dalam berpikir dan bertindak.
Dalil naqli tentang sikap bergantung kepada orang lain:
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan-kebaikan itu kepada siapa yang di kehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Q.S.Yunus:107).
b. Dampak Sikap Bergantung Kepada Orang Lain
a) Gagal menempatkan insaniahnya pada posisi yang
b) Dapat merugikan diri sendiri dan orang lain
c) Mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya
d) Tidak akan mempunyai masa depan yang cerah
e) Menjadi beban orang lain karena ketidakberdayaan dirinya
c. Hikmah tidak bergantung kepada orang lain
Ø Sebagai wujud syukur atas nikmat Allah dalam menggunakan potensi insaniahnya secara baik.
Ø Menyadarkan manusia untuk menempatkan dirinya sebagai manusia yang memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah’
Ø Menumbuhkan sikap kreatif dan dinamis dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Ø Meningkatkan kesadaran manusia hanya kepada Allah.
Ø Sebagai modal manusia untuk membangun peradaban di masa depan.
5. Asusila
a. Pengertian Asusila
Asusila merupakan perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan yang saat cenderung banyak terjadi di kalangan masyarakat terutama kaum muda dewasa.
Dalil naqli tentang Asusila:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannyayang demikian itu lebih baik bagi mereka perbuat.”(Q.S.An Nur:30).
b. Hal-Hal Yang Memicu Munculnya Perilaku Asusila
1) Faktor lingkungan atau masyarakat yang cukup besar memberikan pengaruh terhadap tingkah laku seseorang,khususnya remaja yang kondisinya berada pada masa pubertas dan pencarian jati diri sehingga mereka sangat rentan terhadap pengaruh negatif.
2) Kurangnya keteladanan yang di berikan oleh pihak yang seharusnya memberi atau menjadi teladan seperti peran orang tua dan guru. Keteladanan sangat mutlak di perlukan ,khususnya oleh remaja karena contoh atau teladan memberikan kemudahan untuk untuk proses pembiasan perilaku dan kehidupan sehari-hari.
3) Kurangnya sikap konsisten dari pihak yang seharusnya memiliki tugas sehingga seseorang tidak memiliki patokan yang jelas mengenai hal-hal yang mana yang boleh dan yang mana yang tidak.
4) Maraknya media massa dan komunikasi sehingga hal-hal yang tidak baik sulit untuk di bendung,terlebih di era globalisasi ini.
6. Israf
a. Pengertian Israf
Secara etumologi israf berasal dari bahasa arab Asraf-yusrifu-israf berarti bersuka ria sampai melewati batas. Secara terminologi israf tindakan yang di lakukan seseorang di luar kewajaran atau berlebih-lebihan karena kebiasaan yang dilakukan untuk memuaskan kesenangan diri secara berlebihan.
Dalil tentang sifat israf:
“Makanlah,minumlah,berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan bersikap sombong’.(H.R.Abu Dawud dan Ahmad).
Hendaknya pada diri setiap muslim harus tertanam sikap ridha terhadap apa yang di berikan Allah dan sadar semua nikmat yang di perolehnya iti berasal dari Allah serta pngingkakaran terhadap nikmat Allah dan RasulNya tidak akan mendapat keuntungan sedikitpun.
b. Bentuk-bentuk sikap israf
Ø Dari segi materi
Dalam hal ini misalnya pamer kekayaan dan berjiwa sombong hal yang demikian ini akan menyebabkan kehancuran pada diri sendiri karena tidak mempunyai kontrol pribadi dan sosial.Sikap ini tidak di sukai Allah dan dan tidak memperoleh manfaat di dunia maupun di akhirat.
Perbuatan ini merupakan wujud pengingkaran terhadap nikmat yang di berikan Allah.Allah akan melapangkan rezeki yang menyempitkannya sesuai dengan kehendak dan RidhaNya.
Ø Dari segi ibadah
Allah juga membenci orang yang berlebih-lebihan dal beribadah,bukan berarti melarang seseorang untuk menyempurnahkan ibadahnya tetapi dikhawatirkan akan menggugurkan amal ibadah yang lain. Contohnya, orang yyang mengerjakan shalat tahajud semalam suntuk sehingga di akhir malam ia mengantuk dan tertidur sampai menunggalkan shalat subuh.
c. Nilai Negatif Sikap Israf
Menurut Imam Asy Syabiti:
Ø Dapat menghilangkan keteguhan dan keseimbangan yang di tuntut agama dalam melaksanakan berbagai tanggung jawab hukum.
Ø Adanya kekhawatiran terputus amal ibadahnya di tengah jalan.
Ø Timbulnya rasa benci terhadap ibadah.
Ø Tidak suka melaksanakan beban ibadah.
Ø Adanya kekhawatiran aan menimbulkan pengurangan amal.
Ø Ketika menekuni sebagian amal dapat melalaikan dan menghentikan amal lainnya.
d. Upaya Menghindari Sikap Israf
Islam mengajarkan kebersahajaan. Setiap muslim di larang mengikuti nafsu syahwat. Sederhanakanlah dan tundukkanlah nafsu dengan akal sehat. Janganlah mendekati hal-hal yang dapat mendorong diri untuk berbuat yang tidak baik ataupun melampaui batas. Orang yang memiliki kesederhanaan tidak suka melakukan sesuatu yang melebihi kewajaran, karena akan merendahkan diri sendiri di hadapan Allah dan penciptaNya.
7. Tabzir
a. Pengertian Tabzir
Secara bahasa Tabzir berasal dari bahasa arab yaitu Bazara-yubazziru-tabziru yang berarti boros. Secara istilah Tabzir adalah perbuatan yang dilakukan dengan cara menghambur-hamburkan uang atau barang-brang lainnya karena kesenangan ataupun kebiasaan.
Allah berfirman dalam Q.S. Al Isra’:27:
“sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
b. Bentuk-bentuk Tabzir
c. Nilai Negatif Sikap Tabzir
a) Muncul jiwa yang kufur.
b) Menyebabkan kehancuran pada diri sendiri.
c) Menimbulkan sikap pemborosan.
d) Akan mendapat teguran dari Allah.
e) Hartanya tidak di ridhai Allah SWT.
f) Tidak akan mendapat manfaat apa-apa di dunia maupun di akhirat.
d. Upaya Menghindari Sikap Tabzir
Ø Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Ø Menerima dengan baik dan ikhlas apa yang di berikan Allah kepadanya.
Ø Selalu berusaha melakukan hal sesuai ketentuanNya.
Ø Mmbelanjakan hartanya untuk kepentingan diri dan masyarakat dengan sewajarnya.
Ø Membiasakan sikap sabar dalam hati.
8. Fitnah
a. Pengertian Fitnah
Secara bahasa Fitnah berasal daru bahasa arab disebut dengan kata Fitnatun dan bentuk jamaknya adalah Fitanun, menurut kamus bahasa Indonesia, kata fitnah di artikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang. Secara istilah, fitnah ialah menuduh seseorang dengan maksud menjelekkan dan merusak nama baik orang lain padahal orang yang dituduh tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.
b. Bentuk-bentuk Sikap Fitnah
1) Fitnah dalam bentuk tekanan
2) Fitnah dalam bentuk ancaman
3) Fitnah dalam bentuk teror
4) Sistem yang merusak, menyesatkan dan menjauhkan umat manusia dari sistem Allah
5) Menggunjing keburukan orang lain,dsb.
c. Nilai Negatif Sikap Fitnah
d. Upaya Menghindari Sikap Fitnah
e. Hikmah Menghindari Sikap Fitnah
v Menghadirkan kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat.
v Menumbuhkan rasa Persaudaraan antar sesama masyarakat.
v Terciptanya persatuan dan kesatuan serta keharmonisan dalam kelompok masyarakat.
v Meningkatkan rasa solidaritas,dsb.
9. Mencuri
Mencuri adalah mengambil milik orang lain dengan cara yang tidak absah. Termasuk di dalamnya merampok, mencopet, korupsi, dll. Mecuri adalah perbuatan yag sangat merendahkan diri dan memalukan. Manusia dibekali akal yang mampu menerima agama yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia agar tetap mulia hingga beroleh keselamatan dan kebahagiaan. Manusia dengan akal dan perasaannya tentu tidak mungkin akan mengambil atau mengganggu hak milik orang lain . Sebab bila hal itu terjadi pada dirinya pastilah tidak mau. Sebalikna bila akal dan perasaannya tidak sehat alias tidak berfungsi, maka tanpa perasaan berdosa seseorang akan mengambil hak milik orang lain baik secara diam-diam maupun dengan cara kekerasan bahkan membunuh. Ini terjadi karena pada dirinya sudah berkuasa nafsu hewaniah sehingga hilang rasa takut dan malunya dan berbuat semaunya sendiri.
Sikap mencuri harus dihindari karena termasukakhlak tercela. Hikmah menghindari sikp mencuri dalah sebagai berikut :
By: Nurhikmawati Mus


Komentar
Posting Komentar